Beranda > Omongin film > Film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) Apa Adanya

Film KCB (Ketika Cinta Bertasbih) Apa Adanya

ada“Jangan dengarkan kata orang, lihat dulu filmnya baru komentar!” kalimat itu terdengar di kanan daun telinga dari seseorang yang mengajak saya nonton film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Satu sisi, pendapat dia ada benarnya. Kedua, sekaligus sebagai alasan karena pada saat yang sama tiket film Transformer jilid 2 habis sampai sore. Tidak di Bogor, Jakarta, Bandung pun bioskop 21 penuh segambreng-gambreng. Hanya ingin melihat Optimus Prime yang jelas-jelas telah meruntuhkan bayangan film robot dari Terminator Salvation yang kurang laku.

Apa seperti berkendara di jalan tol ketika beli tiket KCB? Tidak juga, film yang telah beberapa minggu lalu muncul ini masih menarik penonton. Terutama para keluarga yang sedang liburan di Bandung. Film Garuda di Dadaku dan King saya rasa juga tidak terlalu sepi penontonnya. Karena tayangannya film anak-anak tersebut bersamaan dengan waktu liburan anak sekolah. Saya pun harus ngantri –pastinya sejalur dengan ibu-ibu dan some senior citizen.

Jam 14.40 adalah waktu yang tertera di tiket. Popcorn medium menemani kita berdua –dan berjanji untuk mempertimbangkan beli lagi karena harganya lebih mahal dari satu tiket nonton. Tidak seperti nonton film lain yang serba ingin tahu, kali ini tidak. Karena saya baca beberapa postingan di blog tentang film yang bersambung ini. Tentang kekurangannya dan kelebihannya. Karenanya bisa ditebak. Ya! Dari awal saya sudah ba bi bu berkomentar. Sampai teman saya mengingatkan untuk tidak bicara lagi. “Ih, cerewet kamu!”, katanya.

Cerewet pertama: “… kelamaan nih openingnya!” Apakah anda merasakan juga?! Tepat sekali ketika saya bilang itu, adegan opening berakhir. ??? Kemudian, dimulai dengan adegan Azzam, tokoh utama film KCB, disorot ketika beli kacang kedelai dan naik taksi kembali ke kosan untuk dijadikan tempe. Hmmm … just like the novel.

Untuk anda-anda yang telah baca novel KCB, pasti terpuaskan karena adegannya sama seperti novel, tidak seperti pada adaptasi film novel kang abik sebelumnya. Jadi, seterusnya saya tidak akan membahasa jalan cerita film ini.

Sebenarnya nih … kalau mau didaftar cerewet kedua sampai ke sekian, makin banyak deh sisi miring dari film ini. Jadi, saya tidak akan membahas jauh karena secara umum masih banyak yang berpositif thinking kenapa sampai terjadi hal itu. Walaupun disutradarai oleh sutradara kenamaan, Chaerul Umam. Masih ingat film Saur Sepuh?

Dengan demikian, saya akan menambal kekurangan teknis film ini dengan hal-hal favorit dari adegan sampai dialog.
1. I love ketika teman azzam bernyanyi di nikahan dengan syahdu karena tahu sang mempelai wanita begitu mencintainya.
2. I love ketika teman azzam menari girang karena menyuguhkan ke wanita yang dikaguminya.
3. I love ketika teman azzam mengingatkan azzam kedua kalinya untuk tidak melamar wanita yang dicintainya saat azzam memeluk teman-temannya untuk berpisah di bandara. Yang pertama saat masih di bis.
4. Dialog ketika adik azzam bertanya pada anna, “kok gak kenal azzam, kan 9 tahun kuliah di mesir!?” –jadi jangan takut pada yang belum lulus kuliah, minimal sudah terkenallah (gak lulus-lulus maksudnya) hehehehe
5. Dialog Anna yang mensyaratkan tidak mau dipoligami dan dianalogikan dengan ketidaksukaannya pada jengkol. Jadi, mikir untuk berhenti makan jengkol kalau mau dapat wanita “sekelas” anna🙂

Mungkin akan lebih nikmat lagi jika faktor cahaya dipertimbangkan untuk lebih baik lagi karena sudah seperti sinetron –bukan hanya tulisan “bersambung”.

Tidak tahu kenapa, tapi di film/novel ini sosok “malaikat” cenderung lekat pada tokoh wanita, Anna, bukan pada Azzam. Selalu senyum, ikhlas, kaya, pintar, dan soleh. Yang juga tidak dilakukan kang abik pada novel AAC.

Yang terakhir dialog sang ustad terhadap Azzam “bagaimana mungkin kamu yakin akan cinta atau suka sama seseorang jika kamu belum melihat orang tersebut. Karena pernikahan butuh lebih dari cinta” adalah hal yang bagus untuk dicamkan bagi anda yang akan juga menikmati film ini dan sungguh layak anda tonton.

Serta merta juga mengingatkan saya agar segera menamatkan novelnya yang telah saya beli beberapa bulan yang lalu hihihi …

Kategori:Omongin film
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: