Beranda > Sains Populer > Stephen Hawking punya Tuhan yang Lain

Stephen Hawking punya Tuhan yang Lain

Fisikawan terkemuka asal Inggris, Stephen Hawking, dalam buku terbarunya yang berjudul The Grand Design berpendapat bahwa alam semesta tak diciptakan oleh Tuhan. Menurutnya, peristiwa Big Bang yang menjadi awal pembentukan alam semesta tercipta akibat hukum gravitasi dan bukan karena adanya campur tangan Ilahi.

“Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada,” tegas Hawking dalam buku terbarunya itu yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, fisikawan asal AS.

Dalam buku yang telah terbit pada 9 September 2010 di Inggris itu, Hawking meyakinkan bahwa “M-Theory”, sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. “Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah Ia yang memicu terciptanya alam semesta,” tulis Hawking. Tercatat tangal 10 Sep 2010, karya terbaru fisikawan Inggris ini berada di posisi kedua dari peringkat 100 buku terlaris versi Amazon.co.uk.

Pendapat Hawking bertentangan dengan Isaac Newton yang mengatakan bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan karena tidak mungkin alam tercipta dari chaos. Pemikiran Hawking yang ditulis dalam buku barunya itu datang dari sebuah observasi pada 1992 yang meneliti sebuah planet serupa Bumi yang mengelilingi sebuah bintang yang mirip Matahari.

“Secara kebetulan kondisinya mirip sistem tata surya kita dengan matahari tunggal, dan kombinasi yang benar-benar sangat mirip antara jarak Bumi-Matahari dan massa matahari sehingga bukan menjadi hal yang luar biasa dan tidak terbukti bahwa Bumi dirancang secara khusus hanya untuk kehidupan manusia,” jelas Hawking kemudian.

Pendapat bermunculan

Pendapat tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Gereja Inggris, Uskup Agung Canterbury Dr Rowan Williams. Menurutnya, masalah penciptaan tidak bisa hanya dijelaskan dari ilmu fisika semata. Sains dan agama bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

“Kepercayaan kepada Tuhan bukan semata soal penjelasan bagaimana hubungan satu sama lain di alam semesta. Ini adalah soal keyakinan bahwa ada kekuatan hebat sehingga segala sesuatu tergantung keberadaannya,” ujar Rowan Williams seperti dilansir CNN, Jumat (3/9/2010).

Komentar Williams didukung sejumlah pemuka agama di Inggris lainnya, antara lain dari Kepala Pendeta Jonathan Sacks. Dikatakannya, “Sains adalah penjelasan. Agama adalah interpretasi. Injil tentu tidak tertarik menjelaskan bagaimana alam semesta bisa tercipta.”

Ibrahim Mogra, imam dan kepala komite di Dewan Muslim Inggris, mengatakan, “Saat kita melihat alam semesta dan semua yang diciptakan di dalamnya, pasti ada pikiran ada yang menciptakannya. Itulah Yang Maha Kuasa.”

Koleganya di Universitas Cambridge menduga Hawking mungkin salah mengartikan Tuhan sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab suci.

“Istilah Tuhan yang coba diungkap Stephen Hawking bukanlah Tuhan pencipta seperti yang dipercayai Ibrahim, yang merupakan penjelasan terbaik untuk menjelaskan mengapa sesuatu ada,” ujar Denis Alexander, Direktur The Faraday Institute for Science and Religion, Jumat (3/9/2010).

Menurutnya, istilah Tuhan yang dikatakan Hawking adalah perwujudan yang mengisi celah-celah dalam ilmu sains yang belum terungkap. Padahal, pandangan terhadap sains dan keyakinan agama berbeda. Ia berpendapat, sains menjelaskan sesuatu dengan narasi yang hebat tentang terjadinya sesuatu, sementara teologi merupakan makna dari narasi tersebut.

Hawking dan Tuhan-nya

Dalam bukunya itu, Hawking meyakinkan bahwa “M-Theory”, sebuah bentuk dari string theory, bisa menjelaskan penciptaan alam semesta. “Tidak perlu membawa-bawa Tuhan seolah-olah Ia yang memicu terciptanya alam semesta,” tulis Hawking.

Bukan hanya satu kali ini menimpa Hawking mengajukan konsep Tuhan dalam teorinya. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Inggris, Channel 4, Juni 2010, Hawking mengaku tidak percaya bahwa ada Allah adalah hal yang “pribadi.”

“Pertanyaannya adalah, jika demikian bagaimana alam semesta mulai dipilih oleh Tuhan untuk alasan yang tidak dapat kita mengerti, atau jika itu ditentukan oleh proposisi ilmiah?” Saya percaya yang kedua, “kata Hawking adalah dalam program” Genius Inggris. ”

“Jika Anda ingin, Anda dapat menghubungi dalil-dalil ilmiah adalah “Tuhan”. “Tapi bukan sebagai Tuhan pribadi yang bisa anda temui dan tempat bertanya,” lanjut Hawking.

Hal tersebut bertolak belakang dengan pendapat sebelumnya. Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1988, A Brief History of Time, Hawking menegaskan kepercayaannya akan campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. “Jika kita menemukan sebuah teori yang lengkap maka itu akan menjadi kemenangan besar dari nalar manusia. Untuk itu, kita harus mengetahui pikiran Tuhan,” tulis Hawking, pada saat itu.

catt: pdf buku grand design sudah bisa diunduh…cari aja lewat mang Google

Sumber: Kompas.com dan sumber lain

Kategori:Sains Populer
  1. 29 Juli 2013 pukul 21:10

    I’m impressed, I must say. Rarely do I come across a blog that’s both educative
    and amusing, and without a doubt, you’ve hit the nail on the head. The problem is something that not enough folks are speaking intelligently about. I’m
    very happy that I stumbled across this in my hunt for something relating to this.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: