Beranda > Sains Populer > Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang

Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang

♦Pengantar♦

Seperti yang kita tahu bahwa ia termasuk ke-16 ilmuwan yang dipertemukan dengan Douglas D Osheroff, peraih Nobel Fisika 1996 yang ketika itu berkunjung ke Indonesia, tahun 2005. Malang-melintang di Jepang dan Amerika kemudian kembali ke tanah air untuk membangun bangsa.

Tulisan ini akan berseri sampai babak lima.

Selamat membaca! Semoga bisa memberi inspirasi bagi kita semua.

Babak 1, Lahir Dari Orangtua Petani

Anak ke-6 dari 8 bersaudara itu lahir dari keluarga petani di desa ploso Rejo, kecamatan martisih, kabupaten karanganyar, Jawa tengah. Pasangan Purwotaruno dan Rubiyah menghidupi anak-anak mereka secara pas-pasan. Maklum, sang ayah petani dan menjadi tukang kayu. Sedangkan sang Ibu selain mengurus rumah juga membantu penghasilan keluarga dengan membatik.

“Ayah saya cuma petani biasa,” katanya. Toh sang ayah sangat peduli kepada pendidikan. “Ayah selalu bilang akan berusaha sekerasnya untuk menyekolahkan anak-anaknya meski hanya sampai SMA,” kata Warsito. Hanya saja, sering terbentur masalah biaya.

Ia tak ubahnya anak petani lain, menghabiskan waktu sore di sawah dan ternak.  “Sampai umur 19 tahun, saya hidup di kampung,” ungkapnya.

Waktu remaja Warsito tidak memiliki waktu khusus untuk belajar. Pulang sekolah ia punya tugas membantu orang tua, khususnya mencari rumput dan angon (bahasa Jawa, menggembala) kambing di sawah. Namun, karena keinginan besar untuk maju, ia selalu membawa buku untuk dibaca dan belajar sambil membantu orang tuanya di sawah. Bahkan, saat SMP dan SMA ia sengaja membuat catatan-catatan berukuran kecil untuk dibawa ke mana-mana, termasuk ke sawah.

“Buku-buku itu membentuk pola pikir saya,” katanya lagi. Ia mencontohkan buku berjudul Jago-jago Bandung Selatan yang menceritakan sekelompok anak yang memiliki semangat belajar.  “Ceritanya seperti Laskar Pelangi, menginspirasi saya untuk terus maju,” ujar pengajar program pascasarjana Universitas Indonesia dan King Saud University ini.

Hal yang membedakan Warsito dari lingkungannya adalah kegemarannya membaca.  “Sejak bisa membaca di kelas III SD, saya suka baca,” katanya. “Saya meminjam buku apa saja yang bisa saya pinjam dan baca. Saya membacanya di mana saja, bisa di sawah, ladang, sungai. Kambing saya kenyang makan tanaman orang, saya kenyang baca buku,” ujarnya. Aktivitas itu dilakoninya hingga lepas masa SMA. Tak mengherankan, ia melahap semua buku di perpustakaan sekolah, baik buku pelajaran maupun novel.

Bersambung ke babak 2

Kategori:Sains Populer
  1. 3 April 2014 pukul 01:22

    I constantly emailed this webb site post page to
    all my contacts, as if like to read it next my friends will too.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: