Beranda > Sains Populer > Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (3)

Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (3)

Babak 3 Ke negeri matahari

Setelah menyelesaikan SMAN 1 Karanganyar, Solo pada tahun 1986, Warsito ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi walaupun tak punya uang. Salah satu kakaknya, Jamaludin, siap menjual aset tanahnya untuk biaya kuliah Warsito.

Kemudian Warsito masuk ke Teknik Kimia UGM meski tidak tahu bagaimana nanti biayanya. Warsito kemudian pindah ke Yogyakarta. Di masa inilah ia merasakan betapa sulitnya kuliah tanpa dukungan finansial memadai. Apalagi, uang bulanan yang dibawanya juga dicopet di bus kota. “Uang saya Rp 10.000. Itu biaya makan buat satu bulan dan itu uang saya terakhir di Yogyakarta,” ujarnya mengenang. Karena itu, ketika pulang, ia dimarahi bapaknya yang memang sudah tidak punya uang.

Karena itulah, untuk mengeyam pendidikan tinggi, warsito rajin memburu beasiswa. Ia lalu merantau ke Jakarta. Benar saja, tak sampai sebulan duduk di Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Warsito mendapat beasiswa ke jepang dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Saat tidak memiliki uang lagi untuk makan, Jamaludin datang menjemput dari Jakarta guna bersiap-siap berangkat ke Jepang. Ternyata sang kakak juga tidak punya uang. Untuk menjemputnya dari Yogyakarta, Jamaludin harus menjual motor. “Barangkali itulah jalannya. Akhirnya, saya ikut beasiswa itu,” ujarnya. Tahun 1987 ia pergi ke Jepang.

Beasiswa dari B.J. Habibie itulah yang melempangkan karier Warsito meski proses menjalaninya tak mudah. Dengan beasiswa itu, ia mendapat kesempatan kuliah S-1 dan S-2 di Teknik Kimia Universitas Shizouka, Jepang. Adapun untuk pendidikan S-3, Warsito mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang. “Adanya beasiswa itu membuat masalah finansial tidak ada lagi,” katanya.

Tahun 1988 lulus dari Tokyo international Japanese School, Tokyo. Tapi, ia masih terkendala bahasa. Ia kesulitan mengikuti kuliah karena bahasa pengantar jenjang S-1 menggunakan bahasa Jepang — tanpa peduli asal mahasiswa. Semua buku juga berbentuk huruf kanji. “Dua tahun pertama itu masa yang paling berat. Hampir setiap hari saya merasa ingin menangis karena tidak mengerti pelajaran di kelas,” ujarnya. Pelatihan bahasa yang pernah diberikan setahun ternyata tak cukup. Pelatihan itu hanya memperkenalkan 2.000 kanji yang diperlukan untuk hidup sehari-hari mahasiswa asing. Sementara untuk kuliah diperlukan minimal 10 ribu kanji. “Tapi, saya berpikir, masak sih tidak bisa,” ujarnya mantap.

Kegiatan Warsito sebagai mahasiswa di Jepang cukup padat karena ia juga aktif di berbagai kegiatan. Sebab itu, ia menerapkan kebiasaan belajarnya di kampung, tetapi bukan di sawah, melainkan di kereta. Ia selalu menyempatkan diri membaca dan belajar di dalam kereta, meskipun kereta penuh sesak. “Di Jepang, kita dididik bekerja keras, disiplin dan serius. Tidak sempat lagi selengekan,” tutur Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia ini.

Setelah kuliah selama empat tahun, Warsito mampu menyelesaikan studi S-1 dengan predikat terbaik di antara rekan-rekan seangkatan. Nilai IPK 3,82 dan meraih gelar B.Eng Chemical Engineering (teknik kimia). Tahun 1992-94 ia menamatkan pendidikan S-2 dengan IPK 4,0 dan meraih gelar M.Eng. “Itu sebuah keajaiban,” katanya. Sementara pendidikan S-3 ditempuhnya pada 1994-97, juga dengan IPK 4,0 -summa cum laude- dan meraih gelar Ph.D, Electronic Science and Technology (teknik elektronika). “Tapi di S-2 dan S-3 itu IPK tidak terlalu penting. Yang penting itu riset.”

Kategori:Sains Populer
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: