Beranda > Sains Populer > Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (5)

Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (5)

Babak 5, Ketika cahaya ide berkelebat

Profesor Liang mengajaknya pindah laboratorium ke AS untuk mengembangkan teknologi tomografi yang dijadikan aplikasi di dunia perminyakan. Di sana Warsito mengembangkan tomografi berbasis listrik karena tomografi ultrasonik terbatas pada medium minyak. Ia menyelesaikan penelitian itu satu tahun — lebih cepat dari target mereka yang tiga tahun.

Ketika itulah, muncul ide untuk mengembangkan pemindai 4D –yang kini berbuah ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography).

Ide itu muncul di kepalanya setelah memperhatikan sifat medan listrik yang bisa bergerak acak. Sifat ini berbeda sekali dari gelombang suara yang bergerak lurus. Sebelumnya, medan listrik in juga dipaksa bergerak lurus. “Kenapa gerak medan listrik harus dipaksa lurus? Apalagi gerakan itu bisa dipakai untuk 3D. Justru itu lebih alami daripada memaksa medan listrik menjadi lurus,” pikirnya saat itu. Namun diakuinya, tantangannya lebih sulit daripada membuat gerak medan listrik bergerak lurus. “Tantangannya, di algoritma matematika. Kalau belok-belok susah menghitungnya,” ujarnya.

Tentang Tomografi

Sebenarnya, Warsito memulai research tomografi ini sejak tahun 1991 ketika masih menjadi mahasiswa S1. Ketika itu Warsito mengembangkan teknologi tomografi ini dengan harapan dapat dikembangkan pada dunia kedokteran, teknologi untuk diagnosa yang murah dan aman (scanner 4 dimensi untuk ibu hamil yang merupakan update dari USG).

Pria ini ingin membuat teknologi yang mampu “melihat” tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque (tak tembus cahaya). Dia lantas melakukan riset di Laboratorium of Molecular Transport di bawah bimbingan Profesor Shigeo Uchida.

Warsito mengakui teknologi yang kemudian disebut tomografi kedengarannya seperti dongeng fiksi ilmiah. “Tapi, karena tantangan itu riil, saya merasa terpacu menghadapinya secara riil juga,” katanya. Tesis dan disertasinya tetap mengenai teknologi tomografi.

Atas prestasi itu, Warsito kemudian mendalami bidang yang jarang diminati orang, teknologi tomografi. “Ini adalah paduan antara fisika, matematika, dan komputer,” katanya. Dalam dunia kedokteran, teknik ini biasa dipakai untuk diagnosis CT-Scan.

Tomografi juga digunakan dalam nuclear magnetic resonance imaging untuk membuat citra tiga dimensi organ manusia. Teknik ini mulai diterapkan untuk pencitraan aliran multifase dalam reaktor kimia dan bioreaktor, mulai awal 1990-an.

Tomografi juga digunakan dalam nuclear magnetic resonance imaging untuk membuat citra tiga dimensi organ manusia. Teknik ini mulai diterapkan untuk pencitraan aliran multifase dalam reaktor kimia dan bioreaktor, mulai awal 1990-an.

“Padahal, tomografi juga bisa diterapkan dalam banyak bidang. Misalnya pemipaan minyak,“ katanya. Saat minyak diolah, lumpur dan air bercampur di dalamnya, teknik tomografi bisa menghitung berapa barel minyak murni mengalir per detiknya dalam pipa.

Yang membuat penelitian Warsito istimewa adalah langkanya pakar tomografi di dunia.

“Ini adalah teknologi baru dan usianya kurang dari 15 tahun,” ujarnya. Ia mengaku banyak sekali kendala ketika mendalaminya.

Warsito harus merancang perkakas sendiri. Selama delapan tahun ia mengembangkan penelitiannya. Selain itu, ia juga kesulitan mendapat referensi literatur tentang tomografi. Tak jarang ia harus mengembangkan rumus atau teori sendiri. Malah, “Profesor pembimbing saya juga tidak menguasai masalah ini,” tuturnya.

Saat S-1, ia mempelajari teknologi tomografi berbasis gelombang ultrasonik. Barulah pada S-2 dan S-3, ia mengembangkan tomografi berbasis kapasitansi listrik (electric capacitance).

Dia kemudian berhasil mengembangkan tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Metode yang mengkombinasikan cara kerja otak manusia dan teori probabilitas. Metodenya ini ia tuliskan dalam sebuah artikel. Pada 2001, artikel ini menjadi paper yang paling banyak diakses di penerbitan online oleh Institute of Physics (London). Paper yang menjelaskannya dimuat di jurnal Measurement Science and Technology. Teknologi ini dipatenkan di Amerika pada 2003.

Liang Shih Fan, ahli di bidang teknologi partikel, perminyakan, dan energi, kemudian menantangnya membuat teknologi “melihat tembus” ruang 4 dimensi. Hingga pertengahan 2003, Warsito tidak menemukan jawabannya.

Kategori:Sains Populer
  1. sugito
    27 Oktober 2010 pukul 04:48

    Salam sukses buat Pak Warsito. Maju terus untuk meneliti dan mengembangkan ilmu yg manfaat bagi kemanusiaan. Salut, semoga memberi motivasi dan minat ilmuwan muda Indonesia lainnya.

  2. masdiisya
    27 Oktober 2010 pukul 08:42

    mudah-mudahan Pa Warsito terus berkarya….makasih atas kunjungannya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: