Beranda > Sains Populer > Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (6)

Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (6)

Babak 6, “You have to be the first, the best, or different”

Ternyata, usaha ini cukup berat sehingga tak selesai sampai ia kembali ke Indonesia tahun 2003. Tahun itu, Warsito harus mengganti visanya, dari G1 ke H1B. Dari visa scholarship ke visa pekerja.

Warsito sempat ditawari membuat permanent residence, tapi ditolaknya. “Saya tidak ingin terikat sponsor dan tak punya niat berlama-lama di AS. Saya ingin pulang,” katanya. Sebenarnya tahun 2003-06 ia masih mendapat gaji dari OSU, tetapi pada 2006 ia memilih mundur. “Itu masa yang paling berat. Pihak pertama yang menjadi korban adalah keluarga. Masalah finansial itu tidak mudah,” katanya. Maklum, di AS, periset sangat nyaman dari segi karier, fasilitas, finansial, dan lain-lain.

Keinginan mendidik anaknya di Tanah Air menjadi salah satu alasan dia tidak memperpanjang kontrak dengan Ohio State University (OSU). Selain itu, idealisme dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa jauh lebih besar. “Di situlah sosok Habibie mendorong saya,” ujar pengagum Albert Einstein dan Habibie ini menegaskan.

Toh, Warsito pantang mundur. “Saya punya prinsip, you have to be the first, the best, or different,” katanya. Warsito tetap melanjutkan risetnya dari sebuah ruko sewaan di Tangerang. Dia menjual mobil satu-satunya untuk membeli perlengkapan komputer dan Internet serta membuat warnet di lantai bawah ruko. Usaha yang dikelola istri dan adiknya ini untuk menutupi biaya operasional.

Titik balik!

Warsito nyaris gila saat komputer kerjanya hangus terbakar disambar petir. Hanya satu laptop tersisa, dan itu juga tiba-tiba jebol. Ini cobaan berat: di komputer itu, hasil riset belasan tahun hilang tak berjejak.

Hampir sepekan dia berdiam diri di kamar. Mimpinya seperti kandas. Dia ingin menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT). Itu teknologi pemindaian tiga dimensi (3D), dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi, sehingga menghasilkan citra 4D.

Getir. Tapi dia harus bangkit, dan tak boleh menyerah. Musibah itu memaksanya kembali membongkar arsip, dan catatan riset. Satu tim ahli dibentuknya membantu kerja besar itu. Mereka dari Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs).

Barangkali itu hikmah di balik musibah. Sebelumnya, dia malas membongkar data yang tersimpan belasan tahun. Semuanya bertumpuk seperti bangunan tumpang tindih. Tak ada cara lain merapikannya, kecuali membongkar, dan membangun ulang dari nol. “Mungkin di sini kunci keberhasilan itu,” katanya kepada VIVAnews.

Pada 2004, riset itu kelar. Tapi masih dalam bentuk simulasi. Meski begitu, temuan Warsito segera menjadi incaran sejumlah perusahaan terkemuka dunia. Teknologi pemindai 4D  pertama di dunia itu akhirnya dipatenkan di Amerika Serikat, dan lembaga paten internasional PTO/WO pada 2006.

Kerja kerasnya menuai hasil untuk “melihat tembus secara 4 dimensi”.

Pada 2005, IEEE Sensors Journal memuat artikelnya berjudul “Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT)”. Sejak itu, teknologi ini menghiasi sesi plenary lecture di hampir seluruh konferensi ternama di dunia di bidang proses kimia, fluidisasi, mekanika fluida multifasa, energi, teknologi partikel, dan tomografi industri.

Di antaranya Kongres Dunia Tomografi Proses Industri, Aizu, Jepang (2005); Kongres Dunia Teknik Kimia dan Kongres Dunia Teknologi Partikel di Florida (2006); serta Pertemuan Tokoh 100 Tahun Ilmuwan Teknik Kimia yang Paling Berpengaruh di Abad ke-20 di Philadelphia (2008).

Kategori:Sains Populer
  1. 24 Januari 2014 pukul 10:26

    I relish, result in I found just what I was taking a look for.
    You’ve ended my 4 day lengthy hunt! God Bless you man.

    Have a nice day. Bye

  2. 4 Mei 2014 pukul 16:07

    I always spent my half an hour to read this weblog’s
    articles or reviews everyday along with a mug of coffee.

  3. 3 September 2014 pukul 06:40

    Thanks for finally writing about >Warsito, Pencipta Mata Tembus
    Pandang (6) | Pondok Fisika <Liked it!

  4. 27 September 2014 pukul 19:21

    After looking into a handful of the blog posts
    on your blog, I really like your way of writing a blog. I saved it to my bookmark webpage list and will be checking back in the near future.
    Please visit my website as well and let me know what you
    think.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: