Beranda > Sains Populer > Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (7)

Warsito, Pencipta Mata Tembus Pandang (7)

Babak 7, Terus bekerja keras bagi tanah air!

Sejak 2006 Warsito bertekad membuat sistem keseluruhan pemindai ini di Indonesia. “Saya punya keyakinan. Kalau semua sistem ini bisa dibuat di Indonesia, kita bisa menguasai pasar mesin sensor 4D dunia,” katanya. Karena itu, sejak 2005 Warsito rajin mengajak rekan-rekannya mengembangkan hardware-nya. “Memang kondisinya sulit, tetapi itu milestone yang harus kita lewati,” ujarnya penuh keyakinan.

Tak kurang, yang naksir berat adalah NASA, lembaga antariksa Amerika. “NASA adalah lembaga luar yang pertama kali mengakui teknologi ini, dan kemudian memakainya meskipun masih taraf riset,” katanya.

NASA memakai teknologi temuannya itu, untuk mengembangkan sistem pemindai tumpukan embun di dinding luar pesawat ulang-alik. Saat pesawat itu meluncur, ada perubahan suhu sangat tinggi. Tumpukan embun itu bisa merusak dinding pesawat  yang terbuat dari keramik.

Setelah NASA, temuan Warsito dilirik oleh lembaga top lainnya, seperti Ohio State University, perusahaan B&W, Departemen Energi Amerika, University of Cambridge, dan sejumlah lembaga besar lain.

Teknologi Warsito itu diperkirakan bakal membawa perubahan drastis dalam perkembangan riset dan teknologi. Jangkauannya juga luas. Mulai dari bidang energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Pengembangan ini membuat teknologi tomografi lebih murah sehingga bisa menghasilkan produk yang lebih murah pula. Selain itu, teknologi ini juga bisa mengembangkan pemindai 3D realtime yang dikenal dengan tomografi 4D: tiga dimensi ruang, satu dimensi realtime.

Saat ini Dr. Warsito telah membangun pusat riset dan produksi sistem -mulai dari software, sensor hingga hardware – tomografi 4D yang pertama di dunia yang berpusat di Tangerang, Banten. Meskipun masih berskala kecil, produk institusinya 100% diproduksi di dalam negeri dengan melibatkan ilmuwan lokal dan telah mulai di pasarkan di Amerika Serikat. Institusi yang dibangunnya juga telah menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetric dan yang berkaitan yang dikembangkan di seluruh dunia dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka yaitu Measurement Science and Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS).

Disamping itu, pada tahun 2007 Warsito mendirikan institusi riset dalam ilmu tomografi yang diberi nama Ctech Labs  Edwar Technology. Nama kedua merupakan singkatan dari Edi dan Warsito. “Biar kelihatan keren,” kata Warsito. Huruf C pada Ctech Labs, kata Warsito, bermakna melihat. Namun, bisa juga dibaca dalam bahasa Indonesia sebagai “sitek atau sito”. Ini merupakan nama panggilan Warsito ketika masih kecil.

“Cita-cita saya membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia, dan itu di Indonesia.”

Di matanya, dunia sains di Indonesia kurang tantangan. Bukan hanya wadah yang terbatas, tapi juga interaksi antarilmuwan di ajang internasional lemah. Tantangan nyata dari industri juga minim. “Tanpa tantangan, dunia sains kita tidak akan maju,” ujarnya.

Hasil karyanya

Robot itu bernama Sona CT x001. Pembuatannya dibantu oleh mahasisawa strata satu rekrutannya yang sedang menyelesaikan tugas akhir. “Saya beri target skripsinya masuk di jurnal internasional atau dapat paten,” ujarnya.

Di sebuah jendela ruko di perumahan Modernland, Tangerang, robot yang dibekali dua lengan itu sedang memindai tabung gas sepanjang 2 meter. Di bagian atas robot, layar laptop menampilkan grafik hasil pemindaian. Selasa dua pekan lalu itu (oktober 2008), Sona—buatan Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology—sedang diuji coba. Alat ini sudah dipesan PT Citra Nusa Gemilang, pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta. “Di dalam ruko tidak ada tempat lagi untuk menyimpan Sona dan udaranya panas,” kata Dr Warsito P. Taruno, pendiri dan pemilik Edwar Technology.

Sona harus berada di ruangan yang suhunya di bawah 40 derajat Celsius. Perusahaan migas Petronas, kata Warsito, tertarik kepada alat buatannya. Kini mereka masih dalam tahap negosiasi harga dengan perusahaan raksasa milik pemerintah Malaysia tersebut. Selain Sona, Edwar Technology mendapat pesanan dari Departemen Energi Amerika Serikat. Nilai pesanan lumayan besar, US$ 1 juta atau sekitar Rp 10 miliar.

Bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun memakai teknologi pemindai atau Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) temuan Warsito. Lembaga ini mengembangkan sistem pemindai komponen dielektrik seperti embun yang menempel di dinding luar pesawat ulang-alik yang terbuat dari bahan keramik. Zat seperti itu bisa mengakibatkan kerusakan parah pada saat peluncuran karena perubahan suhu dan tekanan tinggi. ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu melakukan pemindaian dari dalam dinding ke luar dinding seperti pada pesawat ulang-alik.

Ia juga telah mengembangkan prototipe sensor ini dan telah menerima berbagai order ECVT dari berbagai lembaga. Kini ia sedang berancang-ancang mengirimkannya ke Departemen Energi AS, beberapa perusahaan dan sejumlah universitas seperti Universiti of Malaya, Universiti Kebangsaan dan King Saud University. Bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Warsito juga tengah mengembangkan neutron tomografi yang bisa digunakan untuk inspeksi material yang nantinya bisa dikembangkan menjadi fotokopi 3D riel. “Itu sangat mungkin,” Direktur Center for Tomography Research Laboratory ini menjelaskan.

Bekerja sama dengan Riken National Science Laboratorium (Jepang), Warsito pun tengah mengembangkan penelitian yang disebutnya dengan chaos-tomography. “Teknologi ini merupakan tomografi 4D yang sebenarnya, karena bisa memprediksi bentuk sebuah benda di masa depan dengan merekonstruksi bentuk benda di masa lalu,” ujarnya. Penelitiannya telah dimulai Oktober 2008. “Kami punya teknologi tomografi, Jepang punya teknologi chaos. Ini pure science.”

“Ada banyak teknologi turunan dari sensor dan tomografi ini yang sekarang sedang kami kembangkan, seperti sensor untuk treatment kanker, sistem pemindaian aktivitas otak manusia, hingga sensor untuk kebocoran tabung gas,” Warsito menambahkan.

Di bidang kedokteran, teknologi temuan Warsito jelas mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel Bidang Fisiologi  dan Kedokteran 1979. Pun penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, yang meraih penghargaan sama tahun 2003.

Berkat segudang prestasinya itu, Warsito termasuk ke dalam 16 ilmuwan Indonesia yang diberi kesempatan unjuk gigi di depan Douglas D Osheroff, peraih Nobel Fisika 1996 yang ketika itu berkunjung ke Indonesia.

Akankah Warsito menjadi peraih Nobel di masa mendatang?

“Rasanya terlalu tinggi untuk bangga dengan ini semua. Yang saya pikirkan hanyalah keinginan memberikan harapan bagi bangsa agar tidak terlalu pesimis dengan kemampuan mereka, dan tidak harus merasa rendah terhadap bangsa mana pun juga,” ujar Warsito.

Hidup untuk orang lain

Dr. Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008).

Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI). Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, Dr. Warsito telah membangun jaringan MITI diseluruh Indonesia dan luar negeri terutama MITI-Mahasiswa di kurang lebih 50 kampus di 26 Propinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia.

Dr. Warsito juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Platform Pembangunan PKS Bidang Perekonomian. Ekonomi adalah bidang kedua yang digelutinya sejak tahun 1994 secara otodidak.

The End

Dari berbagai sumber. Wawancaranya disalin secara acak.

Kategori:Sains Populer
  1. 17 Oktober 2012 pukul 11:34

    Pretty! This was a really wonderful post. Thank you for supplying these details.

    Sherlyn

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: