Beranda > Iman dan sains > Gunung (Merapi) Sang Pasak Bumi

Gunung (Merapi) Sang Pasak Bumi

Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?

(Q.S. An-Nabaa 78:6-7)

Sepanjang sejarah, manusia selalu terpana oleh tinggi dan besarnya gunung. Mereka menganggap gunung adalah tempat suci, tempat bersemayam Tuhan. Orang Jepang mensyakralkan gunung Fuji. Dewa-dewi orang Yunani tinggal di Olympus. Pegunungan Himalaya merupakan tempat dewanya orang India dan Tibet.

Walaupun meletus dan berbahaya, Gunung Merapi tetap berfungsi sebagi pasak bagi pulau jawa

Gunung Merapi dianggap angker oleh orang Yogyakarta. Gunung Bromo merupakan kahyangan penduduk Tengger. Gunung Agung tempat dewanya orang Bali. Semua mengaitkan gunung pada fungsi mistik supranatural. Hanya Islam yang menempatkan kembali fungsi gunung secara alamiah.

Dalam Al Quran kita temukan kata ‘gunung’ sebanyak 49 kali. Diantaranya, 22 ayat menyebutkan fungsi gunung sebagai pasak atau tiang pancang. Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke dalam. Artinya, kepala pasak yang tampak di luar selalu jauh lebih pendek dibanding panjangnya batang yang terhujam.

Ketika agama-agama primitif selama ribuan tahun hanya takjub pada ketinggian gunung, Al Quran mementahkan kekaguman sesat mereka itu. Ternyata bukan hanya tingginya, tetapi kedalaman akar gunung yang menghujam sampai 15 kali lipat dari tinggi yang ada di atas permukaan bumi, itulah yang lebih dahsyat. Al Quran menegaskan bahwa fungsi gunung adalah pasak bumi yang memancang ke bawah tanah dengan kokoh. Itu adalah sebuah konsep tentang gunung yang sangat mutakhir dan baru dikenal.

Baru 20 tahun yang lalu para ahli geofisika menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus. Ketika itu baru ditemukan teori lempeng tektonik (plate tectonic) yang menyebabkan asumsi bahwa gunung mempunyai akar yang sangat berperan menghentikan gerakan horisontal lithosfer.

“Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak goyang bersama-sama” … (Q.S. An-Nahl 16:15).

Rasulullah saw. bersabda, “Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi bergoyang dan menyentak, lalu Allah menenangkannya dengan gunung.” Bagaimana mungkin Nabi saw. yang buta huruf dan hidupnya di abad ke-6 di tengah masyarakat padang pasir, bisa mengetahui tentang gerakan horisontal lithosfer bumi yang berfungsi menstabilkan goncangan? Subhanallah.

Memang, sejak tahun 1620-an, para ilmuwan seperti Francis Bacon dan RPF Placet dari Prancis mengamati kemungkinan bahwa dahulu benua Amerika, Eropa, dan Afrika pernah menyatu. Pada tahun 1858, Antonio Snider mengemukakan konsep Continental Drift, mengambangnya benua-benua. Kemudian menurut ahli geologi Austria, Eduard Suess, semua benua dulunya memang menjadi satu, diberi nama Godwanaland. Sedangkan ilmuwan Jerman, Alfred Wegener menamakannya Pangea.

Namun, teori-teori itu belum mendapatkan pengesahan, sampai tahun 1960-an saat ditemukannya bukti-bukti meyakinkan bahwa benua benar-benar memang bergerak. Kecepatan pergerakan itu 1 cm per tahun di laut Arktik, 6 cm per tahun di khatulistiwa, sampai 9 cm per tahun di jalur pegunungan. Dan itu adalah 1400 tahun setelah Al Quran memberitahukan tentang konsep gunung kepada manusia! Allahu Akbar.

Teori lempeng tektonik menyebutkan bahwa kulit bumi berupa 12 lempeng lithosfer setebal 5 sampai 100 km mengapung di atas substratum plastis (astenosfer), yang tebalnya hampir 3000 km. Lempengan itu bergerak secara horisontal dan saling bertabrakan dari waktu ke waktu dan terlipat ke atas dan ke bawah, melahirkan gunung-gunung.

Misalnya, tabrakan lempeng India dan lempeng Euriasi menghasilkan formasi rantai pegunungan Himalya dengan puncak tertingginya gunung Everest setinggi 8.848 km, terbentuk mulai 45 juta tahun yang lalu. Fase akhir terbentuknya gunung ditandai dengan akar yang jauh menancap ke dalam bumi. Hal ini menyebabkan melambatnya pergerakan lempeng lithosfer.Itulah fungsi gunung, gerakan lithosfer akan lebih cepat dan tabrakan antarlempeng akan lebih drastis dan mungkin membahayakan kehidupan. Wallahu a’lam.

sumber: Bambang Pranggono, Percikan sains dalam Alquran, Khazanah intelektual

Kategori:Iman dan sains
  1. dng
    29 Oktober 2010 pukul 18:22

    subhanallah…

    Pertamax..

  2. masdiisya
    29 Oktober 2010 pukul 22:11

    makasih gan

  3. Dot
    30 Oktober 2010 pukul 10:15

    Ya begitulah, Manusia Arif karena kebijakannya, manusia taqwa karena Tuhannya.
    Bagaimanapun juga, Iqro bismirobbikalladi Kholaq,…maha benar Allah dengan segala firman – Nya.
    Salam persaudaraan Masdisya.

  4. masdiisya
    30 Oktober 2010 pukul 13:50

    hebat sekali tausyiahnya…makasih gan

  5. 31 Oktober 2010 pukul 12:30

    hatur nuwun pencerahan nya mas bro

  6. masdiisya
    1 November 2010 pukul 08:54

    kita saling mencerahkan mas….gimana nmp-nya?

  7. 20 Agustus 2014 pukul 13:47

    Magnificent Piece

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: