Arsip

Archive for the ‘Fisika SMA’ Category

Mengapa Listrik Statis Dihasilkan dari Bahan-bahan Isolator?

20 Februari 2012 3 komentar

Pada saat kita menggosok suatu benda dengan benda lain, kita bukan menciptakan muatan listrik. Akan tetapi, hanya memindahkan elektron (yang sudah ada disitu) yang bermuatan negatif dari suatu benda ke benda lain. Pemindahan elektron ini dapat terjadi dengan mudah atau sulit, bergantung pada ikatan elektron di dalam atom (buka kembali teori ikatan elektron yang digagas Neils Bohr). Apabila ikatan elektron pada atom sangat kuat, maka sulit untuk melepaskan elektron-elektron yang tidak bebas bergerak tersebut. Jika hal ini terjadi, maka benda tersebut digolongkan benda yang sukar menghantarkan atau mengalirkan muatan listrik. Benda itu disebut isolator (listrik) -untuk membedakan dengan isolator panas. Sebaliknya, apabila ikatan elektron pada atom sangat lemah sehingga mudah dilepaskan, maka benda tersebut dapat menghantarkan atau mengalirkan muatan listrik. Benda ini disebut konduktor listrik.

Walaupun ikatan elektron pada atom bahan isolator listrik sangat kuat, elektron-elektron tersebut dapat dipindahkan atau dilepaskan dari ikatan atom dengan cara menggosok. Pada saat kain wol dan mistar plastik (isolator listrik) digosok, elektron-elektron pada kain wol berpindah ke mistar plastik yang elektron-elektronnya tidak bebas bergerak. Elektron dari kain wol tetap berada pada mistar plastik sehingga mistar plastik kelebihan elektron dan bermuatan listrik negatif.

Pada bahan konduktor listrikpun kita dapat memberi muatan listrik dengan cara menggosok. Hal tersebut dapat dilakukan jika ada bahan isolator  yang bertindak sebagai tangkai pada bahan konduktor. Tangkai berbahan isolator itu sebagai pegangan tangan kita.

Pada saat kita menggosok bahan konduktor dengan cara memegangnya langsung dengan tangan, elektron-elektron pada bahan konduktor yang berpindah ke alat gosok digantikan oleh elektron-elektron yang berasal dari bumi atau tanah melalui tangan menuju bahan konduktor sehingga bahan konduktor tidak bermuatan listrik atau tetap netral.

Jadi, dapat disimpulkan listrik statis dihasilkan oleh bahan-bahan isolator listrik karena muatan tersebut diam dan tidak pindah ke mana-mana sampai ikatan elektronnya melemah dan kembali ke asalnya. Berbeda dengan bahan konduktor listrik, muatan yang dihasilkan langsung mengalir ke potensial listrik yang rendah, dalam hal ini bumi.

Ada  yang berpendapat berbeda? Silakan dikomentari.

Iklan
Kategori:Fisika, Fisika SMA

Massa dan Inersia

7 Oktober 2010 1 komentar

Sebagai mana yang kamu tahu, inersia adalah sebagai kecenderungan benda untuk mempertahankan kedudukannya. Kamu dapat mengamati hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Contoh, mendorong mobil mogok lebih sulit daripada mendorong sepeda motor mogok. Dengan cara yang sama, untuk menghentikan mobil lebih sulit dariapda menghentikan sepeda motor. Mobil lebih sulit diubah gerakannya karena inersia mobil lebih besar daripada inersia motor. Contoh lain untuk perbandingan inersia ini adalah kantong pasir. Untuk kantung pasir yang berukuran besar, mempunyai inersia lebih besar daripada yang berukuran kecil sehingga pengaruh pukulan sangat kecil.

Pada awalnya, Newton menjelaskan massa sebagai jumlah materi. Setelah penelitiannya tentang inersia, ia menganggap massa sebagai ukuran inersia. Benda dengan massa yang lebih besar mempunyai inersia yang lebih besar juga sehingga kantung pasir yang massanya besar mempunyai inersia yang lebih besar daripada kantung pasir yang massanya kecil. Dengan demikian,, dengan massa yang lebih besar sulit untuk diubah gerakannya.

Cara Menghasilkan Gelombang Elektromagnetik

2 Oktober 2010 3 komentar

Berdasarkan media perantaraannya gelombang dibedakan menjadi dua, yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik. Gelombang permukaan air dan gelombang tali merupakan contoh dari gelombang mekanik. Apa contoh gelombang elektromagnetik? Cahaya matahari yang setiap hari menyinari bumi merupakan contoh gelombang elektromagnetik. Bagaimanakah terjadinya gelombang elektromagnetik?

Gelombang elektromagnetik terkait dengan elektro (atau listrik) sama seperti gelombang mekanik, untuk membentuk medan magnet dari medan listrik yang berubah-ubah terhadap posisi, muatan harus mengalami gerakan yang dipercepat.

Gerakan muatan yang dipercepat tersebut dapat berupa gerakan harmonik sederhana. Jika muatan bergerak harmonik sederhana, muatan tersebut akan berosilasi. Medan listrik serta magnet yang ditimbulkannya di setiap titik dalam ruang akan berubah-ubah secara sinusiodal. Dari cara ini, gelombang elektromagnetik dapat terbentuk.

Dengan demikian, kita secara mudah dapat menghasilkan gelombang elektromagnetik. Misalnya, dengan mengguncangkan batang plastik yang bermuatan. Sebuah bola plastik yang bermuatan dijatuhkan secara bebas juga menghasilkan gelombang elektromagnetik. Karena jatuh bebas adalah gerakan yang dipercepat.

Demikian juga, ketika mengayunkan bola yang bermuatan dengan menggunakan kawat seperti sebuah bandul sederhana. Bandul tersebut bergerak dalam gerakan harmonik sederhana sehingga timbul gelombang elektromagnetik.

Muatan yang bergerak dalam gerak harmonik sederhana bergerak dengan frekuensi tertentu. Frekuensi ini ditentukan oleh frekuensi dari sumber tegangan. Gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan oleh muatan ini juga akan merambat dengan frekuensi yang sama.

Jika ingin melihat visual gelombang elektromangetik dalam bentuk animasi, kunjungi situs ini!

Kategori:Fisika SMA

Tulis “Celcius” atau “Celsius”?

30 September 2010 3 komentar

Mungkin apalah artinya huruf  “c” yang dituliskan “s”, toh cara bacanya sama! Saya sering bingung, kok masih ada yang menulis “Celcius”. Apa karena salah baca buku yang dijadikan referensi? Atau karena ingin menekankan nama orang barat, karena memang nama tersebut berasal dari orang barat –tepatnya orang Swedia. Atau alasan lainnyakah?

Bagi yang suka tulis-menulis hal ini sangatlah penting! Seperti menulis sayur asem, jangan sampai dituliskan jadi sayur asam ???

Celsius merupakan salah satu satuan untuk derajat suhu yang kita temui pada termometer ketika mengukur suhu. Sama seperti Fahrenheit, Reamur (jarang digunakan) dan Kelvin. Satuan-satuan derajat tersebut berasal dari nama ilmuwan yang menggagas skala termometer kali pertama. Di Indonesia, kita memilih satuan Celsius yang berasal dari nama Anders Celsius (1701-1744), bukan Fahrenheit (dari nama Gabriel Daniel Fahrenheit (1686-1736)).

Anders Celsius sebenarnya seorang Astronomer dari Swedia. Ia menjadi profesor di bidang itu di Universitas Upsala dari 1730-1744 –waktu umur 29 tahun sudah professor !!! Ia mempublikasikan penelitiannya tentang aurora borealis dan 316 hasil penelitian lainnya (memang setiap penelitian wajib dipublikasikan dalam bentuk apapun, termasuk blog jika penerbit enggan) pada 1733. Ia juga turut serta dalam ekspedisi dari Prancis ke kutub untuk mengukur posisi satu derajat meridian.

Sumber lainnya: http://en.wikipedia.org/wiki/Celsius

Memvisualkan Gelombang Suara dengan Lampu Neon

30 September 2010 Tinggalkan komentar

Biasanya, kita memvisualkan atau membuat terlihat dari gelombang suara melalui alat oscilloscope. Ada yang belum tahu alat tersebut? Carilah lewat buku atau sumber informasi lainnya. Ataupun usaha yang paling canggih saat ini, yaitu dengan komputer yang jadul pun sudah bisa. Tentunya dengan software yang tepat. Ternyata pada tahun 1950-an, usaha ini telah berhasil dilakukan. Lihat Gambar berikut.

Legend pada gambar: Baca selanjutnya…

Nilai Kisaran Besaran Fisika

28 September 2010 2 komentar

Nilai kisaran kelajuan

Kelajuan

Nilai (m/s)

Tumbuh rambut manusia

3 x 10-9

Luncuran gunung es

10-6

Siput berjalan

10-3

Rata-rata jalan manusia

3

Maksimum lari seorang pelari

12

Maksimum sepeda

27

Hewan Cheetah

35

Perahu motor

97

Maksimum Kereta api

143

Maksimum mobil balap

283

Suara

300

Rotasi Bumi

460

Maksimum pesawat terbang

980

Cahaya

3 x 108

Baca selanjutnya…

Kategori:Fisika SMA

Kaitan Gaya apung, Gaya berat, dan Massa jenis

21 September 2010 21 komentar

Selama ini saya suka bingung dengan argumentasi bahwa jika suatu benda terapung di atas fluida (misal, air) terjadi karena massa jenis benda tersebut lebih kecil dari air. Lalu bagaimana dengan kapal laut atau benda-benda lainnya yang bisa terapung di laut?

Memang, ada penjelasan terapungnya kapal laut dengan Hukum Archimedes melalui konsep gaya apungnya (atau bouyancy). Akan tetapi, bagaimana kaitan antara kedua konsep, yaitu konsep massa jenis dan gaya apung, juga dengan gaya berat? Haruslah ada kaitannya serta tidak saling mematahkan konsep sehingga menjadi penjelasan yang utuh.

Berikut pemaparannya. Baca selanjutnya…